Nengah Gowang (1857-1951) Legenda Dalang Wayang Sasak

I Nengah Gowang Muda (tengah), sebelum menikah, diapit kakakya (kanan) dan calon istrinya (kiri). Foto koleksi keluarga)

Nama Nengah Gowang di dunia pedalangan wayang Sasak, layaknya legenda Pele, atau Maradona di dunia sepak bola. Gowang adalah seorang dalang wayang Sasak yang dikenal sebagai guru para dalang. Kendati beragama Hindu, Gowang adalah dalang yang dikenal fasih membaca ayat-ayat Alquran. Kehadirannya diterima bahkan dinanti para pencinta wayang sasak di kala itu.

Belum jelas hingga saat ini, dari mana Gowang belajar mendalang. Berdasarkan penuturan Made Darundya, cucu Nengah Gorang,suatu hari Gowang kecil ikut menemani ibunya yang menghadap raja, di Puri Cakraneara. Saat ibunya tengah menghadap raja, Gowang memainkan bayangan dau jepun di atas tanah., di luar puri. Sang raja yang melihat adegan bertanay pada Ibu Gowang, apa gerangan yang dilakukan Gowang kecil. Sang ibu menjawab bawa Gowang bermain wayang. Gowang kecil lalu dipanggil raja, ditanyai lakon apa yang terngah dia mainkan. pengelampan, “Maling,” kata Gowang ketika itu. Raja Anak Agung Ngurah Karang Asem kepincut dengan kemampuan Gowang mendalang. Belakangan setelah dewasa dan menjadi seorang dalan profesional, I Nengah Gowang diminta menjadi salah seorang penasihat raja.

Dalam memnggelar pertunjukan, Nengah Gowang mempersiapkannya dengan sangat serius. Ketika diundang manggung di suatu daerah, Gowang kerap akan melakukan observasi dengan mendatangi pasar, atau ngobrol dengan warga setempat di warung kopi. Dia akan menyerap beragam persoaan yang hangat di tengah masyarakat sekaligus mempelajari idio-idiom lokal setempat. rekaman itu kemudian akan hadir dalam pertunjukannya, yang membuat parapenontonnya takjub, dan merasa dekat dengan materi pertunjukan yang dihadirkan Nengah Gowang.

salah satu legenda yang tersebar luas di kalangan pencinta wayang Sasak, adalah kisah ketika Nengah Gowang dan kelompoknya diundang menggelar pertunjukan oleh bangsa jin. Konon pertunjukan itu berlangsung di sebuah perkampungan di Lombok Barat. tidak seperti biasanya, tuan rumah memberikan imbalan (honor) pertunjukan sebelum berakhir. Gowang sempat menolak, karena itu di luar kelaziman. Honor biasanya dia terima selepas mendalang. Menjelang subuh, ketika pertunjukan berakhir, Gowang dan sekehenya mendapati penonton dan rumah-rumah di perkampungan tempat dia mendalang telah menghilang. Cerita ini segera tersebar di kalangan masyarakat pencinta wayang Sasak ketika itu.

Kemampuan mendalang Nengah Gowang menurun pada cucunya Made Darundya yang saat ini dikenal sebagai dalang pada kelompok pedalangan Jayeng Smare, Desa Batu Kumbung, Lombok Barat. Darundya saat ini menempati rumah sang kakek Nengah Gowang, di Lingkungan Karang Songkang, RT01/123 cakranegara, Mataram.

Wayang-wayang yang sempat digunakan Nengah Gowang saat ini tersimpan di Museum yale University. Sebagain dari wayang-wayang itu dapat dilihat di museum.wayangsasak.org ini.